the cafe - part 2

Maghrib hampir usai. Warna langit masih lembayung. Bukan ungu atau abu - abu. Sang gadis usai menghadap sang Maha. Ia masih terdiam dalam posisi duduk. Tiba - tiba pintu kamarnya diketuk.

"Dit…. lagi ngapain?" sahut seseorang di luar.

Ia tak menjawab. Lagi - lagi, ia sedang malas berbasa - basi. Namun pintu itu terus saja diketuk. "Dit…..?!?" suara itu masih menunggu jawaban. Ia pun akhirnya dengan malas bangkit. Melongok sebentar ke luar, ternyata Re yang sedari tadi mengetuk pintu.

"Ada apa?" sahut sang gadis.

"Kita jadi berangkat ke cafe itu sebentar lagi. Aku masih menunggu Abang datang, juga Iffha. Ini aku bawakan nasi padang pesananmu tadi. Kita makan malam dulu baru berangkat." lanjut Re.

"Kita pergi berempat?" tanya sang gadis lagi.

"Nggak, kita pergi berlima. Tadi Abang juga mengajak Tommy. Sebentar lagi juga dia datang." ujarnya.

"Tommy…?" sahut sang gadis.

"Iya, kenapa?" selidik Re.

"Nggak, nggak apa - apa. Tapi ada Iffha juga kan? Ya sudah, ayo kita makan dulu, aku udah laper." lanjutnya.

Maka mereka pun makan bersama. Tidak lama kemudian, Iffha datang.

"Dit, aku laper nih belom makan dari pagi." kata Iffha sambil nyelonong masuk.

"Hah… ya iya lah kamu belom makan dari pagi, hari ini kamu puasa toh?" sahut sang gadis.

"Hehehe iya.. tapi tadi kan aku juga gak sahur, abis kamu gak bangunin aku sih!" ujarnya sewot.

"Yeh… siapa suruh nggak bangun? Tadi sekitar jam empat pagi aku denger jam weker kamu bunyi sampe meraung - raung gitu kok kamu bisa - bisanya nggak bangun juga" ujarnya sambil mengacak - acak rambut Iffha.

"Wah, lagi pada makan malem ya? Aku minta ya, Dit…. kamu mau kan makan berdua sama aku?" rayu Iffha kemudian.

"Iya… udah gih sana ambil sendok. Cepetan udah hampir jam tujuh nih.. mana kamu belom mandi lagi… bau tauk!" sahutnya.

Akhirnya mereka pun makan bertiga, sambil ketawa - ketiwi.

Tidak lama kemudian terdengar bel berbunyi tiga kali. Tanda bahwa ada tamu untuk Re.

"Lho, kok tumben ada tamu buatku ya? pake pencet bel segala…" sahut Re terkejut.

"Abang kali, siapa tau dia lagi iseng pengen mencet bel." goda sang gadis.

"Nggak mungkin, kurang kerjaan banget Abang pake pencet bel segala. Eh, aku liat dulu ya siapa tamunya." Ia pun ngeloyor ke pintu gerbang.

Tidak lama kemudian…

"Ternyata Tommy. Tapi aku suruh pulang lagi soalnya dia belom makan malam. Sebentar lagi dia juga datang lagi." ujar Re.

"Tommy…?" Sahut Iffha kaget.

"Iya Fha, Tommy. Hehehehe…." sahut sang gadis sambil terkekeh.

"Lah tau gitu ta’ ajak mas Rhe." lanjutnya.

"Heh… awas kamu kalo ngajak - ngajak mas Rhe. Pokoknya malam ini I’m with you, nggak ada mas Rhe mas Rhe-an, oke? Nanti kamu jalan sama aku aja!" sahut sang gadis sedikit memaksa.

Tak berapa lama, Tommy datang lagi. Kali ini bersama Abang.

Ketiga gadis tersebut sudah selesai makan malam. Akhirnya mereka berlima memutuskan untuk langsung berangkat ke cafe. Berjalan kaki.

"Oke…. let’s go!" ujar Abang.

***

Sesampainya di cafe, mereka sudah disambut oleh sang pemilik cafe yang ternyata adalah teman Abang dan Tommy. Sang gadis juga merasa sering melihatnya di Bonbin, food court-nya anak - anak Humaniora yang berisi manusia dalam beragam jenis dan bentuk.

"Halo semua… selamat datang di Joglo cafe. Saya Arie." ujar sang pemilik cafe.

"Dita." sahut sang gadis.

"Iffha." sahut Iffha sambil menjabat tangan Arie sekilas.

"Dia yang punya cafe ini. Di sini sering diadain macem - macem acara seperti launching buku, pembacaan cerpen, diskusi sastra, dan lain - lain. Sebagian besar buku - buku yang berasal dari indie label." ujar Abang usai memperkenalkan sang pemilik cafe.

"Iya, kadang - kadang kami juga menyajikan live music. hari Jumat ini rencananya juga akan ada pembacaan cerpen." lanjut Arie.

"Wow…" gumam sang gadis kagum. Seperti cerita di novel - novel terbitan indie label. Mahasiswa membuka usaha dan memiliki jaringan dengan berbagai badan usaha indie. Bukti kemandirian generasi muda jaman sekarang. Simbol anti-kemapanan.

"Oke, saya tinggal dulu ya… enjoy the atmosphere." ujar Arie membuyarkan lamunan sang gadis.

Cafe ini asyik juga. Suasananya dibuat se-tradisional mungkin. Atapnya dari jerami. Penerangannya menggunakan lampu teplok yang digantung di langit - langit. Bangku - bangkunya dari kayu jati. Bentuk mejanya segi enam dengan desain menyerupai jaring laba - laba. Di sudut kiri ada panggung kecil seperti dipan tempat pertunjukan live music atau acara - acara lain. Di sekelilingnya diterangi lampu kelap - kelip, seperti lampu meteor dalam serial Meteor Garden.

"Hmmm…. tempat ini nyaman ya.." ujar sang gadis.

"Iya nih, suasananya asyik. Beda dari cafe - cafe yang kita kunjungin sebelumnya ya, Dit?" kata Iffha.

"Iya, tempat ini udah lama lho berdirinya. Bahkan sebentar lagi mau pindah lokasi. Dekat Wisma Kagama di boulevard UGM." sahut Abang.

"Iya, soalnya yang sekarang agak kurang strategis. Lumayan jauh dari kampus, di Ring Road Utara. Nanti kalo udah pindah ke Wisma Kagama pasti lebih ramai." timpal Tommy.

Tidak lama kemudian datang waiter. Menu di sini rata - rata kopi dari berbagai tempat di Indonesia. Ada juga teh aneka rasa, snack, juga ice cream. Sang gadis bukan tipe coffee freak, dia tidak tahan dengan kopi. Sugesti, takut nggak bisa tidur, katanya. Tapi saat ini kelihatannya ia menjadi salah seorang cafe freak. Dan sepertinya ia berusaha menularkannya pada teman - temannya yang lain.

Setelah memesan menu masing - masing mereka berlima melanjutkan obrolan.

Menjelang pukul sembilan, datang dua orang duduk dekat mereka berlima. Sepertinya anak UGM juga, mungkin anak filsafat atau sastra. Kelihatannya Tommy cukup mengenal mereka berdua, satu cewek berambut lurus sebahu dan satu cowok bertubuh gempal dengan rambut gimbal.

"Hey, kalian mau aku kenalkan dengan teman - temanku yang lain gak? Bonbinners* juga." tanya Tommy pada sang gadis dan Iffha.

"Siapa?" tanya Iffha menyelidik.

"Udah ikut dulu sama aku, entar aku kenalin." lanjut Tommy.

Maka mereka berdua diperkenalkan dengan kedua orang tersebut. Ternyata yang cowok anak sastra. Namanya Sabar. Dia yang akan membacakan cerpen untuk event hari Jumat ini. Sedang yang cewek, Irin. Dia seorang penulis novel indie. Sebuah novel thriller. Rencananya akan me-launching hasil karyanya tersebut pada bulan November mendatang.

Setelah berkenalan dan berbasa - basi sebentar dengan kedua orang tersebut. Mereka bertiga kembali ke tempat duduk. Hari sudah beranjak malam. Saat itu sudah pukul sembilan malam. Satu jam lagi pintu gerbang kosan akan ditutup. Maka setelah berpamitan dengan sang pemilik cafe, mereka berlima pun meninggalkan tempat tersebut.

to be continued…

note :

Bonbinners* = orang- orang yang sering nongkrong di Bonbin.

Leave a Reply