the cafe - part 1
Siang itu matahari bersinar terik. Panas. Gerah. Bikin jengah. Entah kenapa sang gadis begitu ingin menikmati sejuknya desiran angin akibat gesek dedaunan. Tapi siang begitu panas. Pun ia tak tahu di mana bisa menemukan tempat yang nyaman untuk sekedar duduk sambil menikmati hijaunya pepohonan. Memang beberapa hari sebelumnya ia merasa pernah melewati suatu tempat yang kelihatannya cukup nyaman untuk sekedar berteduh. Tapi ia malas, beberapa pasang manusia yang langganan duduk - duduk di situ selalu membuatnya jengah. Entah di mana lagi ada tempat nyaman seperti itu di sekitar sini.
Saat matahari mulai turun beberapa derajat ke Barat hingga tak lagi berada tepat di atas ubun - ubun, ia pun memutuskan untuk berjalan pulang. Entah kenapa saat itu ia ingin melalui jalan yang berbeda dari biasanya. Berjalanlah ia perlahan, seperti biasa sambil setengah menunduk. Baru berjalan beberapa puluh meter, ia melihat ada taman kecil di antara gedung - gedung perkuliahan. Kelihatan cukup nyaman untuk dijadikan tempat melepas lelah. Mungkin tempat itu memang sengaja ditata sedemikian rupa agar para mahasiswanya bisa melepas penat seusai kuliah. Kelihatannya tempat itu cukup tenang untuk dijadikan tempat belajar, membaca buku, atau berdiskusi. Tidak seperti lingkungan kampusnya yang kering kerontang, serasa hidup di padang pasir!
Akhirnya ia memutuskan untuk duduk - duduk sejenak di taman itu. Sendiri. Hanya ditemani sebuah buku yang belum juga selesai dibaca sejak minggu lalu. Beberapa menit berlalu. Hmmm…. rasanya nyaman sekali melepas lelah di taman ini. Di sekitarnya sedang sepi. Hanya beberapa gelintir orang yang berlalu lalang melewati tempat tersebut. Sebagian besar berjalan kaki, hingga tidak menimbulkan banyak polusi. Sesekali ia memperhatikan ada beberapa dari mereka yang terlihat familiar, namun ia mengabaikan saja dan memutuskan untuk tidak menegur. Ia lebih memilih untuk tenggelam dalam buku bacaannya. Yah, kadang - kadang ia merasa sedikit anti-sosial, namun bidang pekerjaannya kelak mengharuskan ia berhubungan dengan berbagai macam manusia. Bahkan tidak sedikit yang mengatakannya sebagai dewi penolong. Hah…. memuakkan! Tiba - tiba ia merasa ingin sekali keluar dari tempat itu. Mungkin ia salah jurusan. Mungkin sebaiknya ia mempertimbangkan kembali keinginannya menjadi seorang psikolog. Masih teringat jelas olehnya ketika seorang teman mengatakan bahwa ia terlihat sangat menikmati saat - saat berinteraksi dengan benda mati: Komputer. Telepon genggam. Buku harian. Novel.
Kembali ke taman itu. Lama - lama ia jengah juga duduk sendirian di sana. Ia ingin pergi ke suatu tempat, tapi saat ini ia sedang tidak ingin sendirian. Namun sayang pada saat itu tidak ada seorang pun yang dikenalnya memiliki waktu luang. Saat itu pukul 5 sore. Ia pun memutuskan untuk segera kembali ke kos. Kembali berjalan sendiri dalam langkah perlahan sambil menikmati matahari sore.
Sesampainya di kos, ia segera membersihkan diri. Hari sudah sore dan ia sedang tidak ingin mandi terlalu malam. Akhir - akhir ini pinggangnya terasa lebih mudah pegal. Jangan - jangan gejala rematik. Hahaha…. manusia muda ini sudah terkena gejala rematik? Gejala penyakit apa lagi yang akan menghinggapi selanjutnya? Tiba - tiba ia teringat seorang teman sering mengejeknya sebagai orang tua, dan menyumpah - nyumpahi terkena diabetes. Ia memang sangat suka minum minuman berglukosa. Tiada hari tanpa segelas teh hangat manis tiap pagi. Cokelat. Ice cream. hmm… slurp. Sudah terbiasa sejak kecil. Toh ia percaya glukosa menyumbang energi besar bagi manusia tiap hari. Gula adalah kebutuhan. Hanya jumlahnya saja yang harus ditakar agar tidak berlebih.
Saat keluar dari kamar mandi, rupanya adzan maghrib sudah berkumandang. Segeralah ia menghadap sang Maha. Seusainya, ia tiba - tiba teringat bahwa hari ini ia memiliki janji dengan teman - temannya. Ke cafe. Hmm…. langsung terbayang suasana cozy yang akan dilaluinya malam itu. Apalagi kali ini ia tidak pergi ke sana sendirian, atau berdua seperti biasanya.
Hmm… Let’s wait and see, gumamnya.