Archive for July, 2005

About Gie

Saturday, July 30th, 2005

Soe Hok Gie

Soe Hok Gie

Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942, adik dari sosiolog Arief Budiman. Catatan harian Gie sejak 4 Maret 1957 sampai dengan 8 Desember 1969 dibukukan tahun 1983 oleh LP3ES ke dalam sebuah buku yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman. Gie meninggal di Gunung Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 — 16 Desember 1969 akibat gas beracun.

Setelah lulus dari SMA Kanisius Gie melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia tahun 1961. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.

Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.

Soe Hok Gie di pilar triangulasi puncak Pangrango, 1967

Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.

Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.

24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Makam Soe Hok Gie di Tanah Abang

Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”

Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Catatan Seorang Demonstran

John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.

credit : Jay adalah Yulian

*********************************************************

Abis nonton Soe Hok Gie untuk ke dua kalinya. Tadi nonton di fakultas bahasa dan sastra Universitas Negeri Yogyakarta bareng Achen, terus ketemu Iffha dan Mas Rhe di sana, so kita jadi nonton berempat. Nonton bareng terus ada diskusinya juga bareng Riri Riza, Mira Lesmana, dan Nicholas Saputra! Hehehe…. untuk kedua kalinya ngeliat Nicho dari deket ;p sayang tadi gue ga bawa kamera jadi ga bisa ngepost gambarnya di sini.

diskusi diawali dengan ucapan seperti ini (oleh MC kalo ga salah):

tiga orang hebat Indonesia meninggal pada usia yang sama : 27 tahun. Mereka adalah Chairil Anwar, Soe Hok Gie, dan….. (sori satunya gue lupa! maap maap)

Hmm….. tadi pas sesi diskusi ada yang nanya kenapa Gie digambarkan berpakaian necis dan selalu rapi, padahal stereotip seorang demonstran kan kucel, dekil, bau….

terus Riri Riza ngejawabnya kurang lebih gini : "Selama ini kita kemakan stereotip bahwa seorang demonstran pasti penampilannya nggak rapi, awut2an, padahal nggak juga… dan Soe Hok Gie adalah salah seorang yang cukup memperhatikan penampilan."

Hmmm…. jadi ngebayangin kayak apa wanginya dia dulu… hehehe

terus ada lagi yang nanya : "Seandainya saat ini Gie masih hidup, kira - kira apa yang akan dia lakukan sekarang melihat kondisi bangsa saat ini?"

Terus Mira Lesmana ngejawabnya kurang lebih gini :

"Itu juga jadi salah satu pertanyaan kami (crew film Gie) saat melakukan survey. Kami hanya bisa menerka2 saja, mungkin dia akan tetap menuliskan kritikan2 tajam terhadap pemerintah, mungkin juga dia akan menyendiri dan menyepi ke gunung (tidak mau tahu kondisi saat ini), atau mungkin juga dia akan bunuh diri!"

terus diskusi diakhiri dengan ucapan kurang lebih seperti ini oleh Riri Riza:

melalui film ini kami ingin menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dilakukan oleh orang2 besar dan hebat, tapi juga oleh orang - orang biasa yang hobinya nonton film, naik gunung, ketawa - ketiwi…. seperti Gie.

Hmmm…. jadi pengen baca bukunya deh… :)

the cafe - part 2

Wednesday, July 27th, 2005

Maghrib hampir usai. Warna langit masih lembayung. Bukan ungu atau abu - abu. Sang gadis usai menghadap sang Maha. Ia masih terdiam dalam posisi duduk. Tiba - tiba pintu kamarnya diketuk.

"Dit…. lagi ngapain?" sahut seseorang di luar.

Ia tak menjawab. Lagi - lagi, ia sedang malas berbasa - basi. Namun pintu itu terus saja diketuk. "Dit…..?!?" suara itu masih menunggu jawaban. Ia pun akhirnya dengan malas bangkit. Melongok sebentar ke luar, ternyata Re yang sedari tadi mengetuk pintu.

"Ada apa?" sahut sang gadis.

"Kita jadi berangkat ke cafe itu sebentar lagi. Aku masih menunggu Abang datang, juga Iffha. Ini aku bawakan nasi padang pesananmu tadi. Kita makan malam dulu baru berangkat." lanjut Re.

"Kita pergi berempat?" tanya sang gadis lagi.

"Nggak, kita pergi berlima. Tadi Abang juga mengajak Tommy. Sebentar lagi juga dia datang." ujarnya.

"Tommy…?" sahut sang gadis.

"Iya, kenapa?" selidik Re.

"Nggak, nggak apa - apa. Tapi ada Iffha juga kan? Ya sudah, ayo kita makan dulu, aku udah laper." lanjutnya.

Maka mereka pun makan bersama. Tidak lama kemudian, Iffha datang.

"Dit, aku laper nih belom makan dari pagi." kata Iffha sambil nyelonong masuk.

"Hah… ya iya lah kamu belom makan dari pagi, hari ini kamu puasa toh?" sahut sang gadis.

"Hehehe iya.. tapi tadi kan aku juga gak sahur, abis kamu gak bangunin aku sih!" ujarnya sewot.

"Yeh… siapa suruh nggak bangun? Tadi sekitar jam empat pagi aku denger jam weker kamu bunyi sampe meraung - raung gitu kok kamu bisa - bisanya nggak bangun juga" ujarnya sambil mengacak - acak rambut Iffha.

"Wah, lagi pada makan malem ya? Aku minta ya, Dit…. kamu mau kan makan berdua sama aku?" rayu Iffha kemudian.

"Iya… udah gih sana ambil sendok. Cepetan udah hampir jam tujuh nih.. mana kamu belom mandi lagi… bau tauk!" sahutnya.

Akhirnya mereka pun makan bertiga, sambil ketawa - ketiwi.

Tidak lama kemudian terdengar bel berbunyi tiga kali. Tanda bahwa ada tamu untuk Re.

"Lho, kok tumben ada tamu buatku ya? pake pencet bel segala…" sahut Re terkejut.

"Abang kali, siapa tau dia lagi iseng pengen mencet bel." goda sang gadis.

"Nggak mungkin, kurang kerjaan banget Abang pake pencet bel segala. Eh, aku liat dulu ya siapa tamunya." Ia pun ngeloyor ke pintu gerbang.

Tidak lama kemudian…

"Ternyata Tommy. Tapi aku suruh pulang lagi soalnya dia belom makan malam. Sebentar lagi dia juga datang lagi." ujar Re.

"Tommy…?" Sahut Iffha kaget.

"Iya Fha, Tommy. Hehehehe…." sahut sang gadis sambil terkekeh.

"Lah tau gitu ta’ ajak mas Rhe." lanjutnya.

"Heh… awas kamu kalo ngajak - ngajak mas Rhe. Pokoknya malam ini I’m with you, nggak ada mas Rhe mas Rhe-an, oke? Nanti kamu jalan sama aku aja!" sahut sang gadis sedikit memaksa.

Tak berapa lama, Tommy datang lagi. Kali ini bersama Abang.

Ketiga gadis tersebut sudah selesai makan malam. Akhirnya mereka berlima memutuskan untuk langsung berangkat ke cafe. Berjalan kaki.

"Oke…. let’s go!" ujar Abang.

***

Sesampainya di cafe, mereka sudah disambut oleh sang pemilik cafe yang ternyata adalah teman Abang dan Tommy. Sang gadis juga merasa sering melihatnya di Bonbin, food court-nya anak - anak Humaniora yang berisi manusia dalam beragam jenis dan bentuk.

"Halo semua… selamat datang di Joglo cafe. Saya Arie." ujar sang pemilik cafe.

"Dita." sahut sang gadis.

"Iffha." sahut Iffha sambil menjabat tangan Arie sekilas.

"Dia yang punya cafe ini. Di sini sering diadain macem - macem acara seperti launching buku, pembacaan cerpen, diskusi sastra, dan lain - lain. Sebagian besar buku - buku yang berasal dari indie label." ujar Abang usai memperkenalkan sang pemilik cafe.

"Iya, kadang - kadang kami juga menyajikan live music. hari Jumat ini rencananya juga akan ada pembacaan cerpen." lanjut Arie.

"Wow…" gumam sang gadis kagum. Seperti cerita di novel - novel terbitan indie label. Mahasiswa membuka usaha dan memiliki jaringan dengan berbagai badan usaha indie. Bukti kemandirian generasi muda jaman sekarang. Simbol anti-kemapanan.

"Oke, saya tinggal dulu ya… enjoy the atmosphere." ujar Arie membuyarkan lamunan sang gadis.

Cafe ini asyik juga. Suasananya dibuat se-tradisional mungkin. Atapnya dari jerami. Penerangannya menggunakan lampu teplok yang digantung di langit - langit. Bangku - bangkunya dari kayu jati. Bentuk mejanya segi enam dengan desain menyerupai jaring laba - laba. Di sudut kiri ada panggung kecil seperti dipan tempat pertunjukan live music atau acara - acara lain. Di sekelilingnya diterangi lampu kelap - kelip, seperti lampu meteor dalam serial Meteor Garden.

"Hmmm…. tempat ini nyaman ya.." ujar sang gadis.

"Iya nih, suasananya asyik. Beda dari cafe - cafe yang kita kunjungin sebelumnya ya, Dit?" kata Iffha.

"Iya, tempat ini udah lama lho berdirinya. Bahkan sebentar lagi mau pindah lokasi. Dekat Wisma Kagama di boulevard UGM." sahut Abang.

"Iya, soalnya yang sekarang agak kurang strategis. Lumayan jauh dari kampus, di Ring Road Utara. Nanti kalo udah pindah ke Wisma Kagama pasti lebih ramai." timpal Tommy.

Tidak lama kemudian datang waiter. Menu di sini rata - rata kopi dari berbagai tempat di Indonesia. Ada juga teh aneka rasa, snack, juga ice cream. Sang gadis bukan tipe coffee freak, dia tidak tahan dengan kopi. Sugesti, takut nggak bisa tidur, katanya. Tapi saat ini kelihatannya ia menjadi salah seorang cafe freak. Dan sepertinya ia berusaha menularkannya pada teman - temannya yang lain.

Setelah memesan menu masing - masing mereka berlima melanjutkan obrolan.

Menjelang pukul sembilan, datang dua orang duduk dekat mereka berlima. Sepertinya anak UGM juga, mungkin anak filsafat atau sastra. Kelihatannya Tommy cukup mengenal mereka berdua, satu cewek berambut lurus sebahu dan satu cowok bertubuh gempal dengan rambut gimbal.

"Hey, kalian mau aku kenalkan dengan teman - temanku yang lain gak? Bonbinners* juga." tanya Tommy pada sang gadis dan Iffha.

"Siapa?" tanya Iffha menyelidik.

"Udah ikut dulu sama aku, entar aku kenalin." lanjut Tommy.

Maka mereka berdua diperkenalkan dengan kedua orang tersebut. Ternyata yang cowok anak sastra. Namanya Sabar. Dia yang akan membacakan cerpen untuk event hari Jumat ini. Sedang yang cewek, Irin. Dia seorang penulis novel indie. Sebuah novel thriller. Rencananya akan me-launching hasil karyanya tersebut pada bulan November mendatang.

Setelah berkenalan dan berbasa - basi sebentar dengan kedua orang tersebut. Mereka bertiga kembali ke tempat duduk. Hari sudah beranjak malam. Saat itu sudah pukul sembilan malam. Satu jam lagi pintu gerbang kosan akan ditutup. Maka setelah berpamitan dengan sang pemilik cafe, mereka berlima pun meninggalkan tempat tersebut.

to be continued…

note :

Bonbinners* = orang- orang yang sering nongkrong di Bonbin.

the cafe - part 1

Tuesday, July 26th, 2005

Siang itu matahari bersinar terik. Panas. Gerah. Bikin jengah. Entah kenapa sang gadis begitu ingin menikmati sejuknya desiran angin akibat gesek dedaunan. Tapi siang begitu panas. Pun ia tak tahu di mana bisa menemukan tempat yang nyaman untuk sekedar duduk sambil menikmati hijaunya pepohonan. Memang beberapa hari sebelumnya ia merasa pernah melewati suatu tempat yang kelihatannya cukup nyaman untuk sekedar berteduh. Tapi ia malas, beberapa pasang manusia yang langganan duduk - duduk di situ selalu membuatnya jengah. Entah di mana lagi ada tempat nyaman seperti itu di sekitar sini.

Saat matahari mulai turun beberapa derajat ke Barat hingga tak lagi berada tepat di atas ubun - ubun, ia pun memutuskan untuk berjalan pulang. Entah kenapa saat itu ia ingin melalui jalan yang berbeda dari biasanya. Berjalanlah ia perlahan, seperti biasa sambil setengah menunduk. Baru berjalan beberapa puluh meter, ia melihat ada taman kecil di antara gedung - gedung perkuliahan. Kelihatan cukup nyaman untuk dijadikan tempat melepas lelah. Mungkin tempat itu memang sengaja ditata sedemikian rupa agar para mahasiswanya bisa melepas penat seusai kuliah. Kelihatannya tempat itu cukup tenang untuk dijadikan tempat belajar, membaca buku, atau berdiskusi. Tidak seperti lingkungan kampusnya yang kering kerontang, serasa hidup di padang pasir!

Akhirnya ia memutuskan untuk duduk - duduk sejenak di taman itu. Sendiri. Hanya ditemani sebuah buku yang belum juga selesai dibaca sejak minggu lalu. Beberapa menit berlalu. Hmmm…. rasanya nyaman sekali melepas lelah di taman ini. Di sekitarnya sedang sepi. Hanya beberapa gelintir orang yang berlalu lalang melewati tempat tersebut. Sebagian besar berjalan kaki, hingga tidak menimbulkan banyak polusi. Sesekali ia memperhatikan ada beberapa dari mereka yang terlihat familiar, namun ia mengabaikan saja dan memutuskan untuk tidak menegur. Ia lebih memilih untuk tenggelam dalam buku bacaannya. Yah, kadang - kadang ia merasa sedikit anti-sosial, namun bidang pekerjaannya kelak mengharuskan ia berhubungan dengan berbagai macam manusia. Bahkan tidak sedikit yang mengatakannya sebagai dewi penolong. Hah…. memuakkan! Tiba - tiba ia merasa ingin sekali keluar dari tempat itu. Mungkin ia salah jurusan. Mungkin sebaiknya ia mempertimbangkan kembali keinginannya menjadi seorang psikolog. Masih teringat jelas olehnya ketika seorang teman mengatakan bahwa ia terlihat sangat menikmati saat - saat berinteraksi dengan benda mati: Komputer. Telepon genggam. Buku harian. Novel.

Kembali ke taman itu. Lama - lama ia jengah juga duduk sendirian di sana. Ia ingin pergi ke suatu tempat, tapi saat ini ia sedang tidak ingin sendirian. Namun sayang pada saat itu tidak ada seorang pun yang dikenalnya memiliki waktu luang. Saat itu pukul 5 sore. Ia pun memutuskan untuk segera kembali ke kos. Kembali berjalan sendiri dalam langkah perlahan sambil menikmati matahari sore.

Sesampainya di kos, ia segera membersihkan diri. Hari sudah sore dan ia sedang tidak ingin mandi terlalu malam. Akhir - akhir ini pinggangnya terasa lebih mudah pegal. Jangan - jangan gejala rematik. Hahaha…. manusia muda ini sudah terkena gejala rematik? Gejala penyakit apa lagi yang akan menghinggapi selanjutnya? Tiba - tiba ia teringat seorang teman sering mengejeknya sebagai orang tua, dan menyumpah - nyumpahi terkena diabetes. Ia memang sangat suka minum minuman berglukosa. Tiada hari tanpa segelas teh hangat manis tiap pagi. Cokelat. Ice cream. hmm… slurp. Sudah terbiasa sejak kecil. Toh ia percaya glukosa menyumbang  energi besar bagi manusia tiap hari. Gula adalah kebutuhan. Hanya jumlahnya saja yang harus ditakar agar tidak berlebih. 

Saat keluar dari kamar mandi, rupanya adzan maghrib sudah berkumandang. Segeralah ia menghadap sang Maha. Seusainya, ia tiba - tiba teringat bahwa hari ini ia memiliki janji dengan teman - temannya. Ke cafe. Hmm…. langsung terbayang suasana cozy yang akan dilaluinya malam itu. Apalagi kali ini ia tidak pergi ke sana sendirian, atau berdua seperti biasanya.

Hmm… Let’s wait and see, gumamnya.

kutipan dari buku St.Nadie In Winter

Monday, July 25th, 2005

tentang cinta :

For love is action. It is not saying or wishing or hoping or longing.

tentang hidup :

Think in the morning,

Act in the noon,

Eat in the evening,

Sleep in the night

(-after ficino)

In seed-time learn,

In harvest teach,

In winter enjoy.

tentang moral :

Shame is pride’s cloak.

tentang kepercayaan :

Trust is not believe. Love is not hope. To be open is to be kind. It ceases to be a question of choice. It is simply good.We comprehend our comprehendor. As you cannot decide to be kind or compassionate, you cannot summon this sort of grace on your own. You have to trust it is there and open to it.

author : Terrance Keenan

love is blind…

Monday, July 25th, 2005
From:
Date: Saturday, July 23, 2005 2:04:00 PM
Subject: cinta itu buta
Message: seseorang mengirimkan kisah ini….

Pada masa dulu, sebelum dunia diciptakan seperti
yang kita kenal sekarang, dan manusia belum lagi
menginjakkan kakinya di sana, semua sifat
kebaikan dan kejahatan berkeliaran tak tentu arah
dan merasa bosan, tak tahu apa yang hendak
dilakukan.

Suatu hari, mereka berkumpul dan merasa lebih
bosan lagi daripada sebelumnya, sampaiketika
Kecerdikan mengemukakan usul :"Mari kita
bermain petak umpet." Mereka semua menyukai
ide tsb, dan secara tiba2 Madness/Kegilaan
berteriak: "Aku ingin menghitung, biar aku saja
yang menghitung!"

Dan karena tidak ada yang cukup gila untuk ingin
mencari kegilaan, semua yang lain setuju saja.
Kegilaan segera bersandar kepohon dan mulai
menghitung, "Satu, dua, tiga…"

Sementara Kegilaan menghitung, semua sifat
kebaikan dan kejahatan tsb bersembunyi.
Kelembutan menggantung dirinya di ujung bulan,
Pengkhianatan bersembunyi di tumpukan sampah.
Kasih sayang bergulung di antara awan, dan Nafsu
Kegairahan pergi ke tengah2 bumi. Kebohongan
berkata akan bersembunyi di bawah batu, tapi
ternyata justru bersembunyi di dasar danau.
Sementara itu, Ketamakan masuk ke dalam
kantung yang kemudian ternyata dirobeknya
karena kantung itu dirasanya tidak nyaman.

Dan Kegilaan masih terus menghitung, "Tujuh
puluh sembilan, delapan puluh, delapan puluh
satu…" Ketika itu, semua sifat tsb telah
bersembunyi — kecuali Cinta. Seperti Keragu-
raguan, demikianlah cinta, dia tak bisa
memutuskan kemana harus bersembunyi.

Dan ini tentu tidak mengejutkan karena kita semua
tahu betapa sulitnya menyembunyikan cinta. Pada
saat Kegilaan sampai pada hitungan ke-99, Cinta
segeramelompat bersembunyi ke kebun bunga
Mawar. Dan dengan bersemangat Kegilaanberbalik
dan berteriak, "Bersiaplah, ini aku datang! Akan
kutemukan kalian semua"

Kemalasan adalah yang pertama ditemukan,
karena dia bahkan tidak punya energi untuk
mencoba bersembunyi, disusul oleh Keragu-
raguan, yang masih mondar-mandir karena tak
tahu ke mana harus sembunyi.

Kemudian, secara hampir beruntun Kegilaan
segera menemukan Kelembutan di ujung bulan,
Kebohongan didasar danau dan Gairah di tengah2
bumi. Satu persatu Kegilaanmenemukan mereka
semua, kecuali lagi2 Cinta. Kegilaan mulai
menjadi semakin gila, karena putus asa untuk
menemukan Cinta.

Tapi Kecemburuan yang iri pada Cinta yang belum
juga ditemukan, berbisik pada Kegilaan, "Kau
hanya perlu mencariCinta, dan dia bersembunyi di
semak bunga Mawar." Kegilaan mengambil garpu
taman dan menusuk2annya serampangan kearah
semak Mawar. Dia terus menusuk2 sampai
terdengar suara tangis memilukan yang
membuatnya berhenti. Cinta keluar dari
persembunyiannya sambil menutupmukanya
dengan tangan. Di antara jari2nya mengalir darah
segar yang ternyata berasal dari kedua belah
matanya.

Kegilaan yang terlalu bersemangat untuk
menemukan Cinta, tanpa sengaja telah
melukaimata dari Cinta. "Apa yang telah
kulakukan!" teriaknya menyesal. "Aku telah
membuatmu buta! Bagaimana aku harus
memperbaikinya?" Cinta menjawab, "Kau tak
mungkin memperbaikinya. Tapi kalau kamu
bersedia melakukan sesuatu untukku, kamu bisa
menjadi penuntunku."

Dan semenjak itulah, Cinta itu buta namun dia
bisa melihat dalam kegelapan, karena dia selalu
didampingi oleh Kegilaan.

moonlite….

Sunday, July 24th, 2005

Bulan_purnama_di_jogjakarta_1  setiap ngeliat bulan purnama, pasti ada rasa gimanaaa.. gitu. sedih, seneng, kagum.. campur aduk. jadi inget beberapa taun lalu, pas fullmoon lagi keren2nya.. pas acara 17 agustusan lagi rame2nya.. gue justru sedih plus bete banget. ada satu hal yg bikin gue sedih…. biasa lah ttg cowok. hehe…. udah ah yg itu nggak usah dibahas.

bulan purnama kali ini gue seneng. akhirnya nemuin temen yg juga sama2 suka ngabisin waktu buat mandangin bulan yg naik pelan2… she’s Iffha. hehehe…. coba bayangin, hari kamis dari jam setengah tujuh amlem kita dah keluar kosan. awalnya nyari maeman di alun2 deket kosan. ceritanya kita maem lesehan sambil nikmatin suasana purnama. eh gak taunya ketemu sama mbak nay n mbak dam, so jadilah kita maem berempat sambil diterangi cahaya bulan. uugh… kereen!

selesai maem, gue n iffha langsung cabut ke kafe deket kosan iza. nyari tempat pewe lagi buat mandangin bulan dari dalam kafe yg cozy. bayangin aja, ngabisin waktu di kafe malem2 bareng temen, sambil minum segelas gede hot chocolate, trus diterangin cahaya bulan purnama nyorot masuk ke dalam ruangannya. uugh…. nyaman, tenang, romantis, pewe abis deh pokoknya. sayang aja gue kencannya ama cewek, hehehe… ;p abis dari kafe nge-net bentar ampe jam sepuluh, trus balik ke kosan. fiuuh… untung aja kita masih boleh masuk sama yg megang kunci pagar. abis dah kemaleman sih pulangnya!

abis itu gue n iffha melanjutkan moonlite hunting di kosan. sekitar jam setengah sebelasan naik ke lantai dua, trus duduk di loteng ampe jam setengah dua belasan cuma buat mandangin bulan yg makin naik. dengan mata tinggal 5 watt dan kesadaran tinggal setengah, kita duduk2 di loteng itu sambil bersenandung.. nyanyiin lagu apapun yg ada kata "moonlite, moonshine, bulan, etc" yg berhubungan sama purnama. trus sambil ngobrol2 ngalor ngidul, ngelantur ke sana kemari karena udah merem melek gitu, tapi blom juga niat balik ke kamar, akhirnya kita berdua sama2 senderan satu sama lain karena udara makin dingin, dan kulit gue udah menunjukkan tanda2 kena alergi lagi!

hari jumatnya gue nginep di tempat eyang, jadi nggak bisa nikmatin purnama bareng iffha. tapi kata iffha, malam itu bulan masih cantik…. nggak tau lah, mungkin malem itu dia menikmati purnama bareng seorang cowok… ;p

hari sabtunya, gue ketemuan sama Adit. purnama masih cantik bergelayut di langit. kita jalan muter2 jogja dari utara ke selatan, balik lagi ke utara. dari mulai muterin Malioboro yang macet abis, trus makan malem di Condong Catur, deket FE UII, abis itu ke tempat mas ilham. rencananya malem itu emang anak2 psikomed pada nginep di tempatnya mas ilham soale hari minggu subuh pada mau jualan baju di pasar Prambanan. eh, nggak taunya nyampe sana rumahnya kosong, daripada bete nungguin ampe yg punya rumah balik, jadinya gue ngajak Adit muter2 lagi aja. Hmm… kayaknya dia udah agak ngantuk deh. hehe…. tapi abis itu trus kita jalan lagi. sebenernya nggak ada tujuan yg jelas tuh! eh, pas nyampe UKDW Adit ngajakin minum susu hangat di pinggir jalan. kayaknya dia udah langganan di situ. yah.. berhubung udara malem makin dingin n kita berdua udah hampir beku kedinginan, akhirnya jadilah mampir dulu di sana sebentar. abis itu, balik lagi ke rumahnya mas ilham. intinya, malem itu gue nikmatin bulan purnama sambil muter2 jogja. ughh…. kereeen! bayangin, gue ngerasa kita udah ngelewatin kampus gue dua kali, jalan Gejayan ampe tiga kali, perempatan ring road utara dua kali, condong catur tiga kali!! gile bener…

oh ya, buat Adit… jangan kapok ya jalan sama aku! hehe.. gpp kan sekali - sekali refreshing, biar kamu gak lumutan di depan komputer mulu! btw, good luck buat Tugas Akhirnya, oke?!

smell y’all later guys….

Beaugeste

Sunday, July 24th, 2005

                         

hehe.. iseng aja lagi pengen ngepos gambarnya bojes. tadi malem nonton AFI setengah2 di rumah eyang, abis ga enak kalo rebutan ama adek sepupu…

cuma ngeliat bojes nyanyi lagunya Slank dikiiiiit banget, pas endingnya doang! trus ngeliat pas tiwi dieliminasi juga dikiiit banget, cuma ngeliat tampang desperatenya bojes bentar, abis itu udahan.

gilaaa… ternyata bojes umurnya lebih muda dari gue!! anjiiir… berasa tua banget deh jadinya… hiks!

Gie…

Sunday, July 24th, 2005

hari jumat kemaren abis nonton Gie. dianterin sama mas dodie ampe bioskop Mataram tapi abis itu mas do langsung pulang. jadilah gue nonton Gie sendirian. pas mo duduk ada bapak2 yg nempatin kursi gue, so gue protes dong! setelah basa - basi sebentar sama bapak2 itu, gue pun duduk dengan anteng sambil nungguin filmnya mulai. kesan pertama soal bioskop tersebut…. kok a bit apek ya baunya? kursinya kayak agak2 lembab gitu. untungnya gue nggak menemukan makhluk2 aneh bin ajaib (sebangsa curut, kecoak, lalet.. seperti yg dikeluhkan temen2 lain…) sepanjang film diputar.

kesan pertama tentang Gie….

kok dia agak individualis ya? hobinya ke mana - mana sendirian. walaupun nggak berjuang sendirian, tapi kesan yg ditangkep, dia tuh kayak single fighter gitu. tapi menurut gue sih…. keren!

kesan pertama tentang Nicolas Saputra pas meranin Gie….

he’s too neat! secara fisik, dia keliatan terlalu terawat. tapi aktingnya oke lah… gue suka banget pas ngeliat dia mimpin rapat, kayaknya berjiwa leadership banget!

asosiasi awal tentang sosok Gie….

jadi inget mas Januar. bisa dibilang dia adalah salah satu psikomedian yg karakternya paling mirip Gie. kecuali sifat jayusnya, dia itu kok kayak jelmaannya Gie ya? yaa…. nggak persis banget, apalagi secara fisik… nggak mirip! tapi sepanjang gue kenal mas Jan, kayaknya dia yg paling concern tentang kejujuran pada hati nurani dan sejenisnya…

oh ya, btw gue suka sountrack lagunya. cool songs…

what you want ain’t what you get

Thursday, July 21st, 2005

when one wanted to be someone

but becomes no-one

what would you say?

when you could feel the air

but cannot breathe it in

what would you do?

keinginan adalah sumber penderitaan (Iwan Fals)

do you know that you’re…

Tuesday, July 19th, 2005

do you know that you’re….

a dreamer

a loner

do you know that you’re….

living in reality

but growing an unrealistic stupid thing inside

do you know that you’re….

sarcastic

perfectionist

unkind

do you know that you’re….

too stupid to be this way for more

do you know that you’re….

sleeping unawaken

from chaos unspoken

do you know that you’re….

unrealistic at the moment

so do you know that you’re….

asked to wake up! wake up! wake up!

zzzzzzzz……………………

hhh…. sweet dream tonight, lady…