jakarta udik!
lenggak - lenggok Jakarta
bisa membuat orang lupa
…
berjuta mimpi - mimpi ada membawa mereka
jangankan cari surga dunia
neraka dunia pun ada…
setelah seminggu keliling - keliling Jakarta, menikmati suasana yang - super sibuk - super ruwet - super macet - super sumpek
hhh… menikmati panas terik dan berdebu sambil bercengkrama dengan temen2 di atas bus kota, bukan bus way…… rasanya makin lama Jakarta makin sumpek abis!!
window shopping dari mall ke mall.. mulai dari yang deket rumah, di pinggiran kota sampe di pusat kota, semua gue jelajahi. dan setiap masuk mall, yang terlintas cuma satu : komersialisasi. There’s nothing comes for free, my man!
yang paling bikin bete tuh pas ke pusat game-nya… buset dah cuma pengen ngambil permen aja musti bayar 1250 perak! nggak kurang, lebih boleh… itu pun belom tentu dapet permennya, you’ll get it of you’re lucky, dudes! sadisss… komersil abeeesh! nggak tau kenapa, segala sesuatu yang terpajang ditiap atalase mewah, di tiap jengkalnya menyaratkan satu hal : PLEASE SPEND YOUR MONEY HERE, THANK YOU!
kesannya nggak membiarkan satu hal pun luput dari transaksi. Kalo suatu barang atau jasa bisa menghasilkan uang, kenapa enggak?
yah.. mungkin gue sekarang udah jadi orang daerah, menjauh dari kepadatan Jakarta yang makin lama makin kejam aja, makin komersil, makin kapitalis. Mungkin selama beberapa bulan ini gue dimasukin ke dalam akuarium yang aman tapi butuh perjuangan buat hidup. Tapi di sana masih ada manusia yang mau ngebantuin sesama secara sukarela, nggak dipungut bayaran, nggak komersil, nggak kapitalis!!
Apa di kota metropolitan ini masih ada manusia - manusia seperti itu?
credit : harian pikiran rakyat
